Dari Kota Blitar ke Istana Negara: Kisah Eva Sindi Lolos Seleksi Gita Bahana Nusantara 2026

Terkini 07 Aug 2026 14:48 4 min read 260 views By Redaksi
Dari Kota Blitar ke Istana Negara: Kisah Eva Sindi Lolos Seleksi Gita Bahana Nusantara 2026
Foto : Eva Sindi, (kaos putih).

BLITAR | Penajatimsatu.com – Siapa sangka, seorang mahasiswi asal Kota Blitar yang baru mengenal musik klasik saat kuliah, kini dipercaya menjadi pemain trumpet orkestra Gita Bahana Nusantara (GBN) 2026 dan akan mengiringi upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta.

Eva Sindi, mahasiswi Program Studi S1 Musik Universitas Negeri Surabaya (UNESA), merupakan putri pasangan Darmuji dan Rusiani, warga Jalan Borobudur No. 76, RT 05/RW 10, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Ayahnya sehari-hari bekerja sebagai juru foto di kawasan Makam Bung Karno, Kota Blitar.

Eva Sindi mengaku, sebelum kuliah di UNESA, ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Gita Bahana Nusantara merupakan program nasional yang membuka kesempatan bagi putra-putri terbaik dari seluruh Indonesia.

"Saya dulu mengira yang bermain musik di Istana itu memang orang-orang yang sudah ada di Jakarta. Saya tidak tahu kalau ternyata ada open recruitment untuk seluruh daerah," tuturnya. Jum'at (7/8/2026).

Kesempatan itu datang ketika salah seorang asisten dosen mendorongnya mengikuti seleksi GBN 2026. Saat itu Eva justru kebingungan karena belum memahami apa itu GBN.

"Pak asisten dosen bilang, 'Eva, tahun ini kamu harus ikut seleksi GBN.' Setelah dijelaskan kalau ini orkestra dan paduan suara yang tampil di Istana Merdeka saat 17 Agustus, saya benar-benar kaget," katanya.

Perjalanan Eva menuju panggung nasional tidaklah mudah. Meski telah memiliki dasar bermain trompet sejak duduk di bangku SD melalui kegiatan drum band, dunia musik klasik merupakan pengalaman yang benar-benar baru baginya.

Ia baru mulai mempelajari not balok, partitur, hingga teknik permainan orkestra saat memasuki semester pertama kuliah pada 2025.

"Saya benar-benar tidak percaya diri. Saya berpikir peserta yang ikut pasti orang-orang hebat semua. Saya bahkan baru belajar membaca not balok," ungkapnya.

Meski dihantui rasa minder, dukungan dari para dosen dan teman-temannya membuat Eva memberanikan diri mengikuti proses seleksi. Ia terus berlatih bersama UNESA Symphony Orchestra (USO) serta memperdalam teori musik yang sebelumnya masih asing baginya.

Menjelang seleksi, tantangan semakin berat. Materi yang harus dikuasai meliputi tangga nada mayor dan minor, teknik permainan, hingga pembacaan partitur.

"Saya sempat stres karena benar-benar belum paham. Saya banyak bertanya kepada teman-teman yang lebih menguasai teori musik. Rasanya modal saya saat itu hanya nekat dan terus belajar," ujarnya.

Tahap pertama seleksi dilakukan secara daring melalui pengiriman video penampilan beserta berbagai dokumen persyaratan. Di luar dugaan, Eva dinyatakan lolos ke tahap kedua yang digelar di Yogyakarta.

"Saya kaget sekali waktu nama saya diumumkan lolos tahap dua. Bukannya tenang, saya malah tambah takut karena tahu seleksi berikutnya jauh lebih sulit," kenangnya.

Pada tahap kedua, peserta diuji secara langsung, mulai dari teknik bermain, penguasaan tangga nada, hingga kemampuan prima vista atau membaca not balok secara spontan.

Eva mengakui masih banyak kekurangan saat mengikuti tes tersebut.

"Saya sudah pasrah. Saya berpikir kalau belum lolos, tahun depan saya akan mencoba lagi selama usia masih memenuhi syarat," katanya.

Namun harapan yang sempat dipendam itu justru berubah menjadi kebahagiaan besar ketika namanya dinyatakan lolos sebagai anggota Orkestra Gita Bahana Nusantara 2026.

"Saya benar-benar tidak menyangka. Senang sekali, karena dari awal saya tidak pernah membayangkan bisa sampai Jakarta dan menjadi bagian dari GBN," ucapnya.

Saat ini Eva tengah menjalani karantina bersama seluruh peserta GBN di Depok. Ia berangkat dari Blitar pada 1 Agustus menggunakan kereta api menuju lokasi karantina.

Selama masa karantina, para peserta menjalani jadwal yang sangat disiplin dan latihan intensif dalam beberapa sesi hingga malam hari.

"Latihannya sangat padat. Kami benar-benar ditempa agar siap tampil maksimal saat upacara di Istana Merdeka," jelasnya.

Setelah menjalankan seluruh rangkaian karantina dan tampil pada upacara kenegaraan 17 Agustus mendatang, Eva dijadwalkan kembali ke Blitar pada 20 Agustus 2026.

Bagi Eva, keberhasilannya lolos GBN bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan kesempatan untuk terus belajar, menambah pengalaman, dan mengharumkan nama daerah asalnya.

"Saya berharap cerita ini bisa menjadi motivasi bagi siapa pun agar tidak takut mencoba meskipun merasa belum sempurna," pungkasnya.

Recent Articles